Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

SOSIAL MEDIAMU DIGUNAKAN UNTUK APA?

SOSIAL MEDIAMU DIGUNAKAN UNTUK APA?

Pesatnya perkembangan teknologi memberikan kemudahan dalam mengakses informasi dari berbagai belahan dunia.
Kredit : Pixabay
Keberadaan media sosial tidak dapat dipisahkan dari semua sisi kehidupan saat ini. Bagaimana mengelolanya agar ruang privasi terlindungi dari fitnah dan tidak dikonsumsi secara bebas oleh publik? Nampaknya keberadaan media sosial sebagai pengikat tali silaturahim perlu lebih ditingkatkan intinya agar kita selalu tidak lepas kendali dalam mengeluarkan pendapat.

Islam sebagai agama yang membimbing umatnya untuk selalu mengutamakan kebaikan dalam segala aspek kehidupan memiliki keterbatasan bagi umatnya dalam menggunakan media sosial dengan bijak. Islam tidak memiliki pandangan yang anti mainstream terhadap perkembangan teknologi. Islam mendukung dengan tetap memperhatikan etika yang menjaga akhlak dan akhlak pada jalur yang benar.

QS Al Maidah ayat 2 bisa kita jadikan sebagai pedoman di media sosial dimana kutipan kalimat terakhir ayat tersebut diterjemahkan sebagai berikut :

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya."

Pada akhir QS Al Maidah ayat 2 menjelaskan tentang kewajiban orang-orang beriman untuk saling membantu dalam berbuat kebaikan dan ketakwaan, untuk kepentingan dan kebahagiaan mereka. Orang-orang beriman dilarang untuk saling membantu dalam melakukan dosa dan pelanggaran dan diperintahkan untuk tetap bertakwa kepada Allah agar terhindar dari siksaan-Nya yang sangat berat.

Berikut beberapa etika yang harus diperhatikan dalam menggunakan jejaring sosial:

1. Jadikan Sebagai Sarana Menyebarkan Kebaikan

Informasi yang tersebar di media sosial sedikit banyak menggambarkan kejernihan moral penulisnya. Mereka yang berpandangan menyebarkan manfaat melalui tulisan dan berwawasan luas tidak akan terburu-buru memposting berita. Ladang pahala justru akan mengalir jika setiap hal yang kita dakwahkan memiliki khazanah islami dan menebar manfaat. Ibarat lebah yang hanya akan mencari madu, jika naluri kebaikan sudah terpatri, indera kita tidak akan tertarik untuk menciptakan hal atau tulisan yang akan menimbulkan fitnah, hoax, ujaran kebencian, bullying, dll.

Cara selalu menebar kebaikan adalah untuk selalu mengingat kebaikan yang datang dari Allah SWT Terkadang sebagai makhluk ciptaan Allah SWT, kita lupa untuk bersyukur. Padahal, semua yang ada dalam diri kita adalah anugerah dari Sang Pencipta, mulai dari kesehatan, kekayaan, hingga pengetahuan.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 122 yang berbunyi, 

“Ingatlah nikmat yang telah Aku berikan kepadamu.”
Allah tidak pernah meminta manusia untuk membalas semua nikmat-Nya dengan materi. Dalam firman-Nya, Allah hanya meminta manusia untuk mengingat nikmat yang telah diberikan-Nya. Nah, berbuat baik kepada orang lain adalah salah satu cara untuk mengingat nikmat yang diberikan oleh Allah SWT.

Membantu sesama dan tidak mendzalimi orang lain adalah tindakan sederhana yang membantu kita untuk tidak mengingkari nikmat Allah SWT dan merupakan cerminan dari kebaikan yang datang dari Allah SWT. 

Berbagi kebaikan untuk diri sendiri juga Beberapa orang berpikir bahwa berbuat baik dimaksudkan untuk mendapatkan manfaat yang signifikan. Anggapan tersebut tidak salah, namun nyatanya perbuatan baik kita kepada orang lain ibarat “bumerang” bagi diri kita sendiri. Jadi, ketika Anda membantu orang lain, tidak hanya mereka yang mendapat manfaat, tetapi Anda juga, salihah.

Hal ini disebutkan di surat Al-Isra’ ayat 7 yang berbunyi,

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.”

Kebaikan kepada orang lain akan membawa kebaikan bagi diri sendiri. Sebaliknya, perbuatan buruk kepada orang lain juga akan membawa keburukan bagi siapa pun yang melakukannya.

2. Mengingat Hisab

Segala perbuatan sadar akan dihisab atau perhitungan setiap detail yang kita lakukan dapat menjadi pengendali utama dalam mengendalikan tindakan kita. Akan ada hari terakhir di penghujung kehidupan dunia yang menyadarkan manusia akan keterbatasan usianya. Timbangan baik dan buruk menjadi penentu keberadaan manusia di akhirat: surga atau neraka. Kesadaran akan hisab ini juga harus kita pegang ketika menggunakan media sosial karena apapun yang kita lakukan dengan media sosial juga akan menjadi catatan amal yang dapat dipertanggungjawabkan di masa depan.

Yaumul hisab atau hari perhitungan amal adalah hari dimana Allah memperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya tentang amal mereka. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ (25) ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ (26)
“Sungguh, kepada Kami-lah mereka kembali. kemudian sesungguhnya (kewajiban) Kami-lah membuat perhitungan atas mereka.” (QS. Al-Ghasyiyah: 25 – 26).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berdoa di dalam sholat dengan mengucapkan:
اَللَّهُمَّ حَاسِبْنِيْ حِسَابًا يَسِيْرَا
Allohumma haasibni hisaaban yasiiro (Ya Allah, hisablah diriku dengan hisab yang mudah).”

Kemudian 'Aisyah radhiyallahu 'anha bertanya tentang apa itu hisab yang mudah? Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Allah menunjukkan kitab-Nya (hamba) kemudian Allah mengampuni dia begitu saja. Barangsiapa mempersulit hisabnya, dia pasti binasa." (HR. Ahmad, VI/48, 185, al-Hakim, I/255, dan Ibn Abi 'Ashim dalam Kitaabus Sunnah, no. 885. Hadis ini dianggap shahih oleh al-Hakim dan adz-Dzahabi).

3. Lakukan Crosscheck Before Opinion 

(Tabayun) Jika berita yang ditampilkan hanya untuk mencari popularitas dan “suka" dari pembaca tanpa mengindahkan kebenaran dan fitnah yang akan ditimbulkan, hal ini bisa menjadi awal dari kesalahpahaman. Fenomena “jari bicara”, yaitu kebiasaan berbagi tanpa mencari kebenaran berita, sering terjadi. Berita hoax menyebar karena kontribusi dua jempol kita. Untuk itu, mencari kebenaran berita menjadi wajib sebelum menyebarkannya. 

“Dan katakanlah kepada hamba-Ku: “Biarkan mereka mengucapkan kata-kata (yang benar) yang terbaik. Sesungguhnya setan menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi umat manusia” (QS Al-Israa' Ayat 53)

4. “CCTV” di Kedua Bahu

Merasa selalu diawasi oleh para malaikat yang diutus Allah di bahu kanan dan kiri seharusnya membuat tubuh dan pikiran berpikir sebelum mengambil tindakan. Pengawasan 24 jam saat detak jantung masih berdetak tidak cukup menjadi pengontrol dalam setiap tindakan? Begitu juga dengan aktivitas di jejaring sosial. Suka, komentar, atau share kami akan menjadi saksi dan nantinya akan dimintai pertanggungjawaban. QS. Qaf Ayat 1717. (Ingatlah) ketika dua malaikat mencatat (perbuatannya), yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri. QS. Qaf Ayat 1818. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun tetapi di sisinya malaikat pelindung yang selalu siap (untuk mencatat). 

5. Ruang Keikhlasan

Tanpa Menampar Riya Setiap misi atau niat di media sosial terfokus pada satu arah, yaitu keridhaan Allah SWT.

QS. Ghafir Ayat 14
‎فَادۡعُوا اللّٰهَ مُخۡلِصِيۡنَ لَهُ الدِّيۡنَ وَلَوۡ كَرِهَ الۡـكٰفِرُوۡنَ
Fad'ul laaha mukhlisiina lahud diina wa law karihal kaafiruun

Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya).

Selalu berpikir dan berperilaku positif, ya salihah. Seorang muslimah yang berakhlak mulia, insya Allah jauh dari penyakit hati seperti hasad (iri hati), ghadab (emosi/marah), ghibah (ghibah), dan an-namimah (saling menistakan).

Dari Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda: 

“Jauhi hasad (iri hati), karena hasad dapat memakan kebaikan seperti api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud).”

“Dari Abu Hurairah ra bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi, “Beri aku wasiat?” Dia berkata: "Jangan marah." Pria itu mengulangi kata-katanya, dia terus berkata: "Jangan marah." (HR.Bukhori).

“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing (ghibah) sebagian yang lain. Apakah salah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang telah meninggal? Maka sesungguhnya kamu akan merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat dan Maha Penyayang." (Surat Al Hujurat ayat 12)

Nabi Muhammad SAW kemudian bersabda: 

“Keduanya disiksa dan tidak pula disiksa karena suatu masalah yang sulit untuk ditinggalkan.”

Kemudian beliau menambahkan,

“Mereka tidak dihukum karena dosa yang mereka anggap dosa besar. Orang pertama dihukum karena tidak menahan diri dari memercikkan air seninya sendiri, sedangkan orang kedua suka melakukan namimah.” (HR Bukhari nomor 213).

Kita tidak bisa melihat, apalagi memberikan penilaian terhadap niat seseorang. Tetapkan misi untuk memanen limpahan pahala-Nya tanpa mengharapkan pujian yang menggelembungkan popularitas. Ini akan menjadi dasar bagi kami untuk terus melakukan segala sesuatu yang positif. 

Dengan tetap memperhatikan kelima etika dalam menggunakan media sosial, diharapkan akan terjalin persaudaraan meski hanya di dunia maya. Ikatan silaturahim tetap terjalin dan manfaat perkembangan teknologi sebagai sarana mempelajari ilmu pengetahuan dapat terwujud. Mari jaga etika sebagai predikat muslim terpuji di media sosial.


Kredit : Berbagi sumber
Editing : AL Ihsan Lubis

Posting Komentar untuk "SOSIAL MEDIAMU DIGUNAKAN UNTUK APA?"